Bagikan Ke:

Buah Manis dari Sikap Tidak Tergesa-gesa

Picture of Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd.
Chamdar Nur, Lc,.SH,. S.Pd. I,.M. Pd.

(Anggota MUI Sul-Sel Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional)

Manusia pada dasarnya memiliki sifat tergesa-gesa. Ia ingin segera mendapatkan segalanya, tanpa menunggu waktu yang tepat. Dalam fitrahnya, manusia sering kali ingin melihat hasil sebelum berusaha dengan sempurna, ingin panen sebelum menanam. Karena itu, Allah ta‘ala mengingatkan dalam firmanNya

وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا

Artinya: “Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’: 11).

Dan pada ayat lain Allah ta’ala menegaskan

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ

Artinya: “Manusia diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiya’: 37).

Sifat ini, jika tidak dikendalikan, bisa menjadi sumber banyak kesalahan dan penyesalan. Karena itu, Islam datang bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga untuk mendidik jiwa agar tenang dan tidak tergesa dalam mengambil keputusan.

Dalam Islam, sifat ini dikenal dengan istilah at-ta’anni (التَّأَنِّي) yaitu ketenangan, berhati-hati, berpikir matang, dan tidak terburu-buru. Sikap ini menunjukkan kematangan dan kebijaksanaan seseorang. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri pernah diingatkan oleh Allah ta’ala agar tidak tergesa-gesa dalam menerima wahyu

وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Artinya: “Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan wahyunya kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku, tambahkanlah aku ilmu.’” (QS. Taha: 114).

Sikap tergesa-gesa membuat seseorang kehilangan keseimbangannya. Ia berbicara sebelum berpikir, menilai sebelum meneliti, dan bertindak sebelum memahami akibatnya. Karena itu, para penyair Arab menasihati

لا تَعْجَلَنَّ فَقَدْ يُدْرِكُ المُتَأَنِّي
وَقَلَّمَا يَسْبِقُ المَسْرُوعُ مَا قُصِدَا

Artinya: “Janganlah tergesa dalam urusan yang engkau kejar,
Sebab jarang sekali yang tergesa itu memperoleh hasil.
Orang yang berhati-hati akan sampai pada tujuannya,
Sedangkan yang terburu-buru tak luput dari kesalahan.”

Sifat tenang dan berhati-hati (الأناة) adalah cermin kebijaksanaan. Ia bukanlah lambat, melainkan matang dalam pertimbangan. Orang yang malas menunda karena enggan, sedangkan orang yang berhati-hati menunda karena menimbang.

Allamah al-Munawi rahimahullah berkata

العَجَلَةُ مَانِعَةٌ لِلتَّثَبُّتِ وَالنَّظَرِ فِي الْعَوَاقِبِ، وَهِيَ مِنْ تَزْيِينِ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Tergesa-gesa menghalangi seseorang dari ketelitian dan melihat akibat perbuatannya; ia merupakan tipu daya setan.”

Karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Artinya: “Sikap berhati-hati berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan.” (HR. Abu Ya‘la).

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memuji Al-Asyajj ‘Abdul Qais radhiallahu anhu dengan sabdanya

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

Artinya: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah: kesabaran dan ketenangan.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ketika Yusuf alaihi salam diperintah raja agar dibebaskan dari penjara, ia tidak tergesa-gesa keluar. Ia ingin membersihkan namanya terlebih dahulu. Allah ta’ala berfirman

ارْجِعْ إِلَىٰ رَبِّكَ فَسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ الَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ

Artinya: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya tentang wanita-wanita yang telah memotong tangan mereka. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.” (QS. Yusuf: 50).

Ibnu Atiyyah rahimahullah menafsirkan “Perbuatan Yusuf ini adalah bentuk kesabaran, kehati-hatian, dan keinginan untuk membersihkan nama baiknya.”

Dalam berdoa, seorang hamba tidak boleh tergesa-gesa. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah menegur seorang yang berdoa langsung tanpa memuji Allah dan bershalawat, beliau bersabda

عَجِلَ هَذَا، إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Artinya: “Orang ini tergesa-gesa. Jika salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia mulai dengan memuji Tuhannya dan bershalawat kepada Nabi, lalu setelah itu baru berdoa dengan apa yang diinginkannya.” (HR. Abu Daud).

Demikian pula, seseorang tidak boleh berhenti berdoa hanya karena merasa doanya tak dikabulkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Artinya: “Doa seseorang akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi tidak dikabulkan.’” (HR. Bukhari & Muslim).

Ketenangan juga dibutuhkan dalam memutuskan perkara. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu

إِذَا جَلَسَ إِلَيْكَ الْخَصْمَانِ، فَلَا تَقْضِ بَيْنَهُمَا حَتَّى تَسْمَعَ مِنَ الْآخَرِ كَمَا سَمِعْتَ مِنَ الْأَوَّلِ

Artinya: “Jika dua orang datang kepadamu untuk diadili, maka janganlah engkau memutuskan sebelum mendengar dari pihak kedua sebagaimana engkau mendengar dari pihak pertama.” (HR. Ahmad).

Imam Malik rahimahullah berkata

العجلة في الفتوى من الجهل، والأناة فيها من الله

Artinya: “Tergesa-gesa dalam berfatwa adalah bentuk kebodohan, sedangkan ketenangan berasal dari Allah.”

Demikian pula dalam menerima berita, Allah ta’ala memerintahkan untuk meneliti terlebih dahulu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, lalu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ، وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Artinya: “Jika kalian menuju shalat, datanglah dengan tenang. Apa yang kalian dapatkan, shalatlah bersama imam, dan yang terlewat, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari & Muslim).

Allah ta’ala juga mendidik NabiNya shallallahu alaihi wasallam agar tidak tergesa-gesa menerima wahyu

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

Artinya: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu (wahai Muhammad) untuk mempercepat (membaca) Al-Qur’an itu.” (QS. Al-Qiyamah: 16).

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan adab bagi penuntut ilmu: jangan memotong ucapan guru sebelum ia selesai berbicara, karena ilmu itu kokoh dengan kesabaran.

Namun, ketenangan tidak berarti lambat dalam kebaikan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

التُّؤَدَةُ فِي كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ إِلَّا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

Artinya: “Ketenangan itu baik dalam semua perkara kecuali dalam urusan akhirat.” (HR. Hakim).

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata

كم من الناس زلوا بسبب العجلة؛ في نشر خبر، أو حكم على شخص، أو تصرف بلا روية. فالتأني في الأمور كلها خير

Artinya: “Betapa banyak manusia tergelincir karena tergesa-gesa, dalam menyebarkan berita, menilai orang lain, atau mengambil keputusan. Maka ketenangan dalam segala hal selalu membawa kebaikan.”

Imam Al-Ghazali rahimahullah menulis

كل عمل يحتاج إلى علم وتدبير، والعجلة تمنع كليهما، فيغلب الشيطان عندئذٍ على الإنسان

Artinya: “Setiap amal membutuhkan ilmu dan pertimbangan. Tergesa-gesa menghalangi keduanya, dan di saat itu setan dengan mudah menipu manusia.”

Imam Abu Ishaq al-Qairawani rahimahullah menutup dengan peringatan indah

إياك والعجلة، فإنها أم الندامة

Artinya: “Waspadalah terhadap tergesa-gesa, karena ia adalah induk dari penyesalan.”

Oleh karena itu, hendaknya kita belajar menahan diri, menimbang sebelum bertindak, dan meminta petunjuk Allah ta’ala dalam setiap langkah. Sebab, siapa yang menghiasi dirinya dengan ketenangan dan kehati-hatian, maka ia sedang menapaki jalan yang dicintai oleh Allah ta’ala.

اللهم ارزقنا الحِلْمَ والأَنَاةَ، وثَبِّتْ قلوبَنا على الحقِّ، واصرفْ عنا عَجَلَةَ الشيطان.

Artinya: “Ya Allah, karuniakan kepada kami kesabaran dan ketenangan, tetapkan hati kami di atas kebenaran, dan jauhkan kami dari tergesa-gesaan yang berasal dari setan.”Aamiin

 
Scroll to Top